Contoh Kasus Etika
Bisnis di Indonesia
Telkomsel diduga melakukan manipulasi dalam program
“Talkmania” dengan tetap menarik pulsa pelanggan meski keutamaan dalam program
itu tidak diberikan.
Salah seorang warga Kota Depok, Ibnu (25), Selasa,
mengatakan, dalam iklannya, Telkomsel menjanjikan gratis menelepon ke sesama
produk operator selular itu selama 5.400 detik (90 menit-red). Untuk
mendapatkan layanan itu, pulsa pelanggan akan dikurangi Rp 3 ribu setelah
mendaftar melalui SMS “TM ON” yang dikirim ke nomor 8999 terlebih dulu.
Namun, pelanggan sering merasa kecewa karena layanan itu selalu gagal dan hanya
dijawab dengan pernyataan maaf disebabkan sistem di operator selular tersebut
sedang sibuk serta disuruh mencoba lagi.Tapi pulsa pelanggan tetap
dikurangi, dan apabila terus dicoba tetap juga gagal, sedangkan pulsa terus
dikurangi, katanya.
Warga Kota Depok yang lain, Wawan (30) mengatakan,
penggunaan layanan Talkmania yang di iklankan oleh Telkomsel itu seperti
“berjudi”. “Kadang – kadang berhasil, kadang – kadang gagal, namun pulsa tetap
ditarik,”katanya. Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK),
Farid Wajdi, SH, MHum mengatakan, layanan iklan Telkomsel itu dapat dianggap manipulasi
karena terjadinya “misleading” atau perbedaan antara realisasi dengan janji.
Pihaknya siap memfasilitasi dan melakukan pendampingan jika ada warga yang
merasa dirugikan dan akan menggugat permasalahan itu secara hukum.
Secara sekilas, kata Farid, permasalahan itu
terlihat ringan karena hanya mengurangi pulsa telepon selular masyarakat
sebesar Rp 3 ribu.Namun jika kejadian itu dialami satu juta warga
saja dari sekian puluh juta pelanggan Telkomsel, maka terdapat dana Rp 3 miliar
yang didapatkan operator selular itu dari praktik manipulasi iklan tersebut.
Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) dan
Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) perlu turun tangan menangani hal
itu agar masyarakat tidak terus dirugikan. Apabila ditemukan bukti adanya
praktik manipulasi itu, diharapkan Depkominfo dan BRTI menjatuhkan sanksi yang
tegas agar perbuatan itu tidak terjadi lagi. Semua peristiwa itu
terjadi karena iklan operator selular selama ini sering menjebak, saling
menjatuhkan dan tidak memiliki aturan yang jelas, katanya. Humas Telkomsel
Depok, Ririn yang dikonfirmasi mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan
terhadap nomor pelanggan yang merasa dirugikan dalam layanan Talkmania
tersebut.
“Namun, Telkomsel telah ‘merefine’ atau mengembalikan
kembali pulsa nomor-nomor (handpone) yang gagal itu,” katanya.
Contoh Kasus Etika
Bisnis di Luar Negeri
Johnson & Johnson adalah perusahaan manufacture
yang bergerak dalam pembuatan dan pemasaran obat-obatan dan alat kesehatan
lainnya di banyak negara di dunia.
Tylenol adalah obat rasa nyeri yang di produksi oleh McNeil Consumer Product Company yang kemudian menjadi bagian anak perusahaan Johnson & Johnson. Tingkat penjualan Tylenol sangat mengagumkan dengan pangsa pasar 35% di pasar obat analgetika peredam nyeri, atau setara dengan 7% dari total penjualan grup Johnson & Johnson dan kira-kira 15 hingga 20% dari laba perusahaan itu.
Tylenol adalah obat rasa nyeri yang di produksi oleh McNeil Consumer Product Company yang kemudian menjadi bagian anak perusahaan Johnson & Johnson. Tingkat penjualan Tylenol sangat mengagumkan dengan pangsa pasar 35% di pasar obat analgetika peredam nyeri, atau setara dengan 7% dari total penjualan grup Johnson & Johnson dan kira-kira 15 hingga 20% dari laba perusahaan itu.
Pada hari kamis tgl 30 September 1982, laporan mulai
diterima oleh kantor pusat Johnson & Johnson bahwa adanya korban meninggal
dunia di Chicago setelah meminum kapsul obat Extra Strength Tylenol. Kasus
kematian ini menjadi awal penyebab rangkaian crisis management yang telah
dilakukan oleh Johnson & Johnson. Pada kasus itu, tujuh orang dinyatakan
mati secara misterius setelah mengonsumsi Tylenol di Chicago. Setelah
diselidiki, ternyata Tylenol itu mengandung racun sianida. Meski penyelidikan
masih dilakukan guna mengetahui pihak yang bertanggung jawab, J&J segera
menarik 31 juta botol Tylenol di pasaran dan mengumumkan agar konsumen berhenti
mengonsumsi produk itu hingga pengumuman lebih lanjut. J&J bekerja sama
dengan polisi, FBI, dan FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) menyelidiki kasus itu.
Hasilnya membuktikan, keracunan itu disebabkan oleh pihak lain yang memasukkan
sianida ke botol-botol Tylenol. Biaya yang dikeluarkan J&J dalam kasus itu
lebih dari 100 juta dollar AS. Namun, karena kesigapan dan tanggung jawab yang
mereka tunjukkan, perusahaan itu berhasil membangun reputasi bagus yang masih
dipercaya hingga kini. Begitu kasus itu diselesaikan, Tylenol dilempar kembali
ke pasaran dengan penutup lebih aman dan produk itu segera kembali menjadi
pemimpin pasar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar