MANUSIA
DAN KEBUDAYAAN
PENGERTIAN
MANUSIA DAN HAKIKAT MANUSIA
Manusia atau orang
dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah
kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan
sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"),
sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan
tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang
bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan
ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan
dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan
penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta
perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk
kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia
yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis
kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda
laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda
perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.
Hakikat
manusia dalam pandangan ilmu sosiologi menurut Bapak Agus Comte “konsep manusia
dalam ilmu sosiologi belum sepenuhnya melihat manusia sebagai mahluk yang utuh
dan mandiri”. Comte berpendapat bahwa masyarakatlah yang menentukan individu.
Baginya manusia itu ada untuk masyarakat dan masyarakatlah yang menentukan
segala-galanya. Comte melihat bahwa manusia adalah non-rational. Oleh karena
itu menurutnya “individual liberty” justru akan menimbulkan bahaya bagi
keutuhan masyarakat itu sendiri. Demikian juga dalam masyarakat, tak seorangpun
dapat berpendapat lain dari pada apa yang telah diputuskan oleh golongan
tertinggi masyarakat itu, yaitu “The Intellectua Scientific Religious
Group.” Ini berarti bahwa manusia adalah hanya suatu bagian dari masyarakat. Ia
hidup dalam masyarakat tetapi ia tidak dapat mengarahkan masyarakat sesuai
dengan keinginannya. Dalam pendidikan manusia diibaratkan suatu benda kosong
dan adalah tugas masyarakat untuk mengisinya dengan norma-norma atau
nilai-nilai yang dapat membuat masyarakat ini berbuat secara lebih terarah
dalam artian tidak menggangu sistem. Oleh karena itu Sosialisasi dalam
kehidupan manusia dipandang sangat penting.
PENGERTIAN KEBUDAYAAN, UNSUR DAN WUJUD
Kebudayaan adalah hasil
karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan
meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan
jasmaninya serta sumber- sumber alam yang ada disekitarnya. Kebudayaan boleh
dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan
yang dihadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan.
Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya,
serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya
kelakuan. Dalam definisi ini, kebudayaan dilhat sebagai "mekanisme
kontrol" bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973a), atau
sebagai "pola-pola bagi kelakuan manusia" (Keesing & Keesing,
1971). Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan,
petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, yang
terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang digunakan secara kolektif
oleh manusia yang memilikinya sesuai dengan lingkungan yang dihadapinya
(Spradley, 1972).
Kebudayaan merupakan
pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan
yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia
serta menjadi sumber bagi sistem penilaian sesuatu yang baik dan yang buruk,
sesuatu yang berharga atau tidak, sesuatu yang bersih atau kotor, dan
sebagainya. Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu diselimuti oleh
nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada
pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap
manusia (Geertz, 1973b).
Kebudayaan yang telah
menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat bila ada
rangsangan, digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi berbagai
gejala, peristiwa, dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga
kebudayaan yang dipunyainya itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat di
mana dia hidup. Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial
warga masyarakat tersebut, selalu mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil
kelakuan yang harus saling mereka pahami agar keteraturan sosial dan
kelangsungan hidup mereka sebagai makhluk sosial dapat tetap mereka
pertahankan.
Koentjaraningrat (1985)
menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok
kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah :
1. Kesenian
2. Sistem
teknologi dan peralatan
3. Sistem
organisasi masyarakat
4. Bahasa
5. Sistem
mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
6. Sistem
pengetahuan
7. Sistem
religi
Pada jaman modern
seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai memudar, faktor dari
budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita
ini. Contohnya saja anak muda jaman sekarang, mereka sangat antusias dan up to
date untuk mengetahui juga mengikuti perkembangan kehidupan budaya luar negeri.
Sebenarnya bukan hanya orang-orang tua saja yang harus mengenalkan dan melestarikan
kebudayaan asli negara kita tetapi juga para anak muda harus senang dan
mencintai kebudayaan asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang menjelaskan
soal 7 unsur budaya universal yaitu :
1.Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan
sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian
yang dapat memuaskan.
2.Sistem teknologi dan peralatan
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan
barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan
membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
3.Sistem organisasi masyarakat
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa
meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki
kelemahan dan kelebihan masing – masing antar individu sehingga timbul rasa utuk
berorganisasi dan bersatu.
4.Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan
hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia.
Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
5.Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan
barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan
membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
6.Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki
akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang
berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.
7.Sistem
religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha
Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan
dibedakan menjadi tiga yaitu:
1.Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang
berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai-nilai,norma-norma, peraturan, dan
sebagainya yang sifatnya abstrak tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud
kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga
masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk
tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan
buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu
tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula
disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta
bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat
tata kelakuan.
3.Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa
hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat
berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan
didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu
tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud
kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan
karya (artefak) manusia.
ORIENTASI NILAI KEBUDAYAAN DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Lima Masalah Dasar
Dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia ( kerangka Kluckhohn
) :
1.Hakekat Hidup
·
Hidup itu buruk
·
Hidup itu baik
·
Hidup bisa buruk dan baik, tetapi
manusia tetap harus bisa berikthtiar agar hidup bisa menjadi baik.
·
Hidup adalah pasrah kepada nasib yang
telah ditentukan.
2.Hakekat Karya
·
Karya itu untuk menafkahi hidup
·
Karya itu untuk kehormatan.
3.Persepsi Manusia Tentang Waktu
·
Berorientasi hanya kepada masa kini. Apa
yang dilakukannya hanya untuk hari ini dan esok. Tetapi orientasi ini bagus
karena seseorang yang berorientasi kepada masa kini pasti akan bekerja
semaksimal mungkin untuk hari-harinya.
·
Orientasi masa lalu. Masa lalu memang bagus
untuk diorientasikan untuk menjadi sebuah evolusi diri mengenai apa yang
sepatutnya dilakukan dan yang tidak dilakukan.
·
Orientasi masa depan. Manusia yang
futuristik pasti lebih maju dibandingkan dengan lainnya, pikirannya terbentang
jauh kedepan dan mempunyai pemikiran nyang lebih matang mengenai langkah-langkah
yang harus di lakukann nya.
4.Pandangan Terhadap Alam
·
Manusia tunduk kepada alam yang dashyat.
·
Manusia berusaha menjaga keselarasan
dengan alam.
·
Manusia berusaha menguasai alam.
5.Hubungan Manusia Dengan Manusia
·
Orientasi kolateral (horizontal), rasa
ketergantungan kepada sesamanya, barjiwa gotong royong.
·
Orientasi vertikal, rasa ketergantungan
kepada tokoh-tokoh yang mempunyai otoriter untuk memerintah dan memimpin.
·
Individualisme, menilai tinggi uaha atas
kekuatan sendiri.
Pengertian perubahan
kebudayaan adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak
sesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai
keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan
kebudayaan :
Faktor Intern
·
Perubahan Demografis
·
Konflik social
·
Bencana alam
·
Perubahan lingkungan alam
Faktor Eksternal
·
Perdagangan
·
Penyebaran agama
·
Peperangan
KAITAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN
Manusia dalam kehidupan
di dunia ini mempunyai peranan yang sangat unik sehingga dapat dipandang dari
berbagai segi ilmu pengetahuan. Menurut ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai
kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk suatu jaringan-jaringan
sistem yang dimiliki oleh manusia ( ilmu kimia ) , dan merupakan kumpulan dari
energi ( ilmu fisika ) ,manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam
golongan mahluk mamalia ( biologi ). Masih banyak ilmu lain yang menerangkan
bahwa manusia itu mempunyai peran unik di dalam kehidupan. Manusia di susun
atas unsur-unsur di bagi 2 kelompok besar yaitu:
1. Manusia terdiri dari 4 unsur yang terkait :
·
Unsur
jasad yaitu unsur yang dimana orang lain maupun diri kita sendiri
dapat melihat , meraba, dan
menempati ruang dan waktu dalam kata lain maksudnya tubuh kita sendiri.
·
Unsur hayat yaitu unsure yang ditandai
dengan gerakan dan mengandung unsur hidup.
·
Unsur roh / ruh yaitu bimbingan dan
pimpinan dari Tuhan , sehingga daya yang bekerja secara spiritual dan memahami
kebenaran.
·
Unsur nafsu yaitu berarti mengerti akan
diri nya sendiri.
2. Sebagai satu kepribadian punya 3 unsur yaitu:
·
Id yaitu struktur kepribadian yang
paling primitive dan paling tidak Nampak.
·
Ego disebut juga sebagai kepribadian
“eksklusif” karena peranannya dalam menghubungkan energy Id ke dalam sosial
dimengerti oleh orang lain.
·
Super ego merupakan struktur kepribadian
paling akhir. Lain dari Id dan Ego yang tumbuh dalam lingkungan internal, super
ego lahir dalam lingkungan eksternal .
Dalam sosiologi manusia
dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya
berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan
kebudayaan, clan setclah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur hidup
manusia agar sesuai dcngannya. Tampak baliwa keduanya akhimya merupakan satu
kesatuan. Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara
manusia dengan peraturan - peraturan
kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya hams patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dart sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya hams patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dart sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
1. Ekstemalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui ekstemalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat
menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan
berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata
sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
3. Intemalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap
kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakamya
sendiri agar dia dapat hidup dengan .baik, sehingga manusia menjadi kenyataan
yang dibentuk oleh masyarakat.
Apabila manusia melupakan bahwa masyarakat adalah ciptaan manusia, dia akan menjadi terasing atau tealinasi (Berger, dalam terjemahan M.Sastrapratedja, 1991; hal : xv)
Manusia dan kebudayaan, atau manusia dan masyarakat, oleh karena itu mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain. Pada kondisi sekarang ini kita tidak dapat lagi membedakan mana yang lebih awal muncul manusia atau kebudayaan. Analisa terhadap keberadaan keduanya hams menyertakan pembatasan masalah dan waktu agar penganalisaan dapat dilakukan dengan lebih cermat.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar