Resensi Novel
Diary Si Bocah Tengil
Kenyataan Pahit
Judul: Diary si Bocah Tengil -
Kenyataan Pahit (buku #5)
Pengarang: Jeff Kinney
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi dan Jia Effendie
Pewajah isi: Aniza
Penerbit: Atria
Tebal: 217 hlm
Rilis: Juni 2014 (cet. ke-10)
ISBN: 978-979-024-474-0
Tentang Penulis
Jeff Kinney adalah seorang pengembang dan perancang permainan
online, dan pengarang buku terlaris #1 versi New York Times. Pada 2009, Jeff
dijuluki sebagai salah satu dari 100 Orang Palinf Berpengaruh di Dunia versi
majalah Times. Dia menghabiskan masa kanak-kanaknya di kawasan Washington D.C.,
dan pindah ke New England pada 1955. Sekarang, Jeff dan istrinya tinggal di
bagian selatan Massachusetts bersama istri dan kedua putranya.
Kelebihan Novel
Dengan membaca novel ini, kita menjadi mengetahui bagaimana
perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak remaja dari kebudayaan berbeda
khususnya di Amerika serta pola pertemanan, tingkah laku dan kebiasaannya,
sehingga dapat kita jadikan informasi tambahan dan resensi untuk
membandingkannya dengan kehidupan kita di Indonesia. Kita akan disuguhi oleh
perasaan dilema seorang anak muda yang memang menginjak pada fase pencarian
jati diri yang pasti akan dialami oleh semua anak, walaupun prosesnya tidak
begitu baik namun pada akhirnya kita dapat memperoleh hal positif dari proses
yang tidak begitu baik itu.
Tema serta alur ceritanya mudah dimengerti pembaca dan
diangkat dari kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan pengetahuan-pengetahuan
yang mungkin kita anggap remeh namun sangat vital yang tidak akan kita dapatkan
di sekolah.
Kekurangan Novel
Karena merupakan buku terjemahan, terkadang joke-joke yang
sebenarnya lucu berubah menjadi garing karena telah melewati tahap translate
itu sendiri yang dapat mengurangi kadar “menggelitik” dari novel itu sendiri. Ini
merupakan buku ke-5 sehingga banyak yang berkomentar kalau kelucuan si tokoh
greg ini berkurang, mungkin karena mengikuti judul yang ada pada novel kali ini
yaitu Kenyataan Pahit
Sinopsis
Greg yang sedang bermusuhan dengan sahabat baiknya Rowley,
berusaha untuk tetap berteman dengan teman yang lain walaupun tidak ada yang
bisa menggantikannya.
Greg mengalami dilema saat ada pesta yang diadakan oleh kakak
kelasnya dan dia sekeluarga harus pergi ke pesta pernikahan pamannya. Pada
akhirnya ia pergi ke pesta pernikahan pamannya dan ia pun tak menyesal dengan
pilihannya itu.
Di usianya yang beranjak dewasa ada sebuah tradisi di
keluarganya dimana mereka akan mendapat ceramah dari nenek mereka yang
dilakukan dengan waktu yang lama dengan pembicaraan yang membosankan. Meski
begitu dia tetap mendengarkan neneknya dan pada akhirnya ia bisa berteman
kembali dengan sahabat baiknya yaitu Rowley dengan sedikit membuka pikiran.
Pesan Moral
Sebuah persahabatan, pasti akan mengalami sebuah pertengkaran
dimana hal itu memang harus dilewati bersama karena dapat menimbulkan rasa
keakraban yang kuat dengan sendirinya. Apabila terlalu lama dalam sebuah
permasalahn tersebut, seseorang harus bisa berpikir secara jernih. Memecahkan masalah
tidak harus dengan akal logika, tapi terkadang dengan sedikit melapangkan dada
kita dapat menyelesaikan masalah itu, karena mengalah bukan berarti kalah.
Seberapa pun pentingnya sebuah eksistensi yang akan kita
dapatkan, seberapa penting kita dimana orang lain, seberapa ingin kita untuk
melakukan hal-hal lain dengan teman-teman, sahabat, ataupun pacar, tetap
keluarga lah yang terpenting dan harus dinomor satukan, karena hanya keluarga
kitalah yang akan selalu ada di sisi kita saat kita membutuhkannya, tidak
peduli saat senang atau pun susah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar